WELCOME

Sabtu, 22 Januari 2011

LATIHAN MENDESAIN GAMBAR 3 DIMENSI

Buku LATIHAN MENDESAIN GAMBAR 3 DIMENSI DENGAN AutoCAD 2002

Resensi oleh:RICS
Keinginan untuk menghasilkan desain gambar 3 dimensi dari setiap praktisi, pelajar maupun mahasiswa yang sudah sangat menggeluti dunia desain rancang bangun, maka akan lebih mudah serta lebih memiliki hasil desain yang mutunya tinggi jika menggunakan komputer serta perangkat lunak atau software AutoCAD untuk menghasilkan desain bentuk 3 dimensi yang lebih riil dan nyata, dibandingkan dengan menggunakan mesin meja gambar (manual).
Penerapan perintah-perintah untuk mengembangkan desain 2 dimensi menjadi 3 dimensi secara bertahap serta diikuti dengan tampilan perubahan gambar-gambar, membuat kemudahan bagi pemula maupun serta menambah tingkat kemudahan bagi yang sudah terampil menggunakan AutoCAD.
Penggunaan warna dan materials pada setiap desain 3 dimensi serta dilakukannya proses rendering, sehingga membuat tampilan gambar 3 dimensi tampak lebih riil atau nyata.
Meskipun buku ini sudah diterbitkan tahun 2004, namun masih sangat relevan penggunaannya untuk menghasilkan bentuk-bentuk desain 3 dimensi serta sesuai dengan yang diinginkan dan tidak akan kalah dengan hasil dari AutoCAD release yang lebih tinggi.
Hal ini juga karena sangat sulitnya untuk mendapatkan software AutoCAD realese yang lebih tinggi serta sangat tergantung dengan waktu yang sangat dibatasi masa berlaku registrasinya, terutama diluar P. Jawa dan Bali. Untuk AutoCAD realese 2002, disamping mudah diperoleh copy-annya jika mengalami gangguan terhadap harddisk, serta belum lagi volume kesibukan untuk menyelesaikan banyaknya jumlah desain yang harus dikerjakan secepatnya, membuat para pemakai AutoCAD 2002 lebih memilih tetap menggunakannya dari pada melakukan perburuan AutoCAD realese yang lebih tinggi.
Tenaga-tenaga terampil tingkat menengah serta Mahasiswa yang sudah tidak mau menggunakan mesin meja gambar untuk menghasilkan hasil desain 2D dan 3D serta dituntut untuk menggunakan AutoCAD, maka solusinya adalah menggunakan prinsip-prinsip yang terdapat dalam buku ini didalam penerapan atau proses mendesain 2D menjadi 3D.
Hasil maksimal akan terwujud dalam proses alih teknologi tersebut, sebab yang diterapkan pada setiap penggunaan perintah-perintah dimulai dengan bentuk atau jenis gambar sederhana hingga desain yang sangat sulit.



Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI


Jl. Palmerah Selatan 22, Jakarta 10270


Web Page : http://www.elexmedia.co.id
Buku LATIHAN MENDESAIN GAMBAR 3 DIMENSI DENGAN AutoCAD 2002 Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/computers/1803202-buku-latihan-mendesain-gambar-dimensi/

Menjadikan gambar Autocad Ke PDF

Dalam tutorial ini kita akan belajar untuk membuat file PDF dari gambar AutoCAD.
Ada empat kemungkinan metode untuk membawa AutoCAD menggambar menjadi file Adobe Illustrator.

Metode Yang di gunakan:

1. Langsung ke tempat yang menggambar di AutoCAD Illustrator file.
2. Converting an AutoCAD drawing menjadi format PDF dan menempatkan PDF file di Illustrator.
3. Copy dan paste (hanya untuk digunakan jika 1 dan 2 tidak berhasil)
4. Simpan sebagai EPS

Metode 1 merupakan metode sederhana, sebagai salah satu tempat yang dapat menggambar di AutoCAD Illustrator file dengan menggunakan tempat perintah. Namun dalam metode ini adalah gambar yang tidak pada skala tertentu dan harus skala secara manual dengan menggunakan skala bar sebagai acuan. Proses ini bisa sangat membosankan dan tidak akurat.

Metode 2 ekstra melibatkan satu langkah membuat file PDF dari gambar AutoCAD. Keuntungan menggunakan metode ini adalah bahwa keluaran PDF dapat berada pada skala yang diperlukan. Dengan demikian ketika kita tempatkan ke dalam PDF
Illustrator file yang ada di di skala yang diperlukan dan tidak memerlukan penyesuaian lebih lanjut dari segi skala.

Membuat PDF:
Catatan: Adobe PDF writer / Acrobat penyuling diminta untuk dapat dikonversi dari sebuah gambar yang AutoCAD PDF. Membuat PDF mirip dengan pencetakan dari AutoCAD, satu-satunya perbedaan adalah pilihan Adobe Acrobat PDF penulis atau penyuling sebagai printer.

LANGKAH - I. Memilih Printer:
1. Buka AutoCAD dan membuka peta tapak dibuat dalam tutorial # B1
2. Jenis' plot 'di baris perintah. Dari "File" pilih menu "Plot .."
3. J "Plot" kotak dialog akan muncul.
4. Klik pada "Plot Device" tab jika belum aktif.
5. Di bawah "komplotan Konfigurasi" pilih printer yang merupakan penulis ATAU Acrobat PDF penyuling.




















Langkah ke - II. Selecting the Print Area:
Di dalam plot setting ( plot area ) scrol kebawah tanda panah dan cari window kemudian klik window selanjutnya klik area yang anda ingin plot menjadi pdf.

Langkah Ke - III. Setting up the Plot Scale:
Catatan: pada skala yang plot di peta tapak ke pdf adalah skala yang akan diimpor ke dalam ketika Adobe Illustrator, sehingga Anda perlu membuat skala keputusan pada saat ini. Khas untuk tapak skala peta adalah 1 "= 20 ', 1" = 50', 1 "= 100 ', 1" = 200', 1 "= 400 'dll

Pengertian sistem kontrak konstruksi (ilmusipil.com)

Kontrak proyek sistem Rancang Bangun (Design and build contract)

¨ Secara teknis istilah rancang bangun (design build atau design construct) adalah lebih jelas menggambarkan pembagian tugas dalam kontrak tersebut

¨ manajemen/kontraktor/”target=”_parent”rel=”external”title=”kontraktor” >Kontraktor melaksanakan perencanaan dan pembangunan, perencanaan dapat dilakukan melalui konsultan perencana, tetapi kontrak perencanaan kepada kontraktor bukan kepada pengguna jasa

¨ Selain dapat keuntungan, kontraktor sekaligus juga mendapat bayaran untuk jasa perencanaannya, Pembayaran pertermin

¨ Pengguna jasa tidak lagi menempatkan konsultan pengawas tetapi cukup menunjuk wakil yang fungsi dan tugasnya mengamati jalannya pekerjaan apakah sesuai spesifikasi teknis dan jadwal

¨ Diperlukan jaminan kemampuan membayar dari pengguna jasa yang besarnya senilai kontrak dan masa berlaku selama masa pelaksanaan.

¨ Perlu kehati-hatian pengguna jasa dalam memelih kontraktor karena semua aspek pembangunan proyek dipercayakan kepada satu perusahaan. Jadi profesionalisme dan bonafidifitas perusahaan harus benar-benar dipertimbangkan dalam memilih kontraktor

Kontrak proyek sistem Pendanaan Penuh dari Penyedia Jasa (Contractor full prefinancing)

¨ Penyedia jasa mendanai seluruh pekerjaan sesuai kontrak, setelah pekerjaan selesai 100% diterima dengan baik Pengguna jasa, barulah Penyedia jasa dibayar sekaligus 95%, 5% untuk retensi
.

¨ Pengguna jasa harus memberi jaminan bank kepada penyedia jasa dan harus tetap berlaku selama masa pelaksanaan pekerjaan.

¨ Jaminan pembayaran bukan instrumen pembayaran dan baru dapat docairkan jika ada permasalahan pengguna jasa cedera janji

¨ Dalam kontrak sistem ini pengguna jasa harus menanggung biaya uang (cost of money) dan dibebankan pada nilai kontrak.

kontrak proyek sistem BOT/BOO/BLT


¨ Kontrak ini merupakan pola kerjasama antara pemilik tanah/lahan dengan investor untuk menjadikan lahan menjadi satu fasilitas tertentu

¨ Setelah pembangunan fasilitas selesai, investor diberi hak untuk mengelola dan memungut hasil dari fasilitas tersebut selama kurun waktu tertentu.

¨ Setelah masa pengoperasian selesai fasilitas tadi dikembalikan kepada pengguna jasa.

¨ Selama masa pengoperasian fasilitas harus masih dalam keadaan baik, sehingga untuk perawatan ini diperlukan kontrak tersendiri.

¨ Bentuk kontrak BOO, disini setelah dibangun, investor diberi hak untuk untuk mengelola dan pada akhirnya memiliki sebagian dari fasilitas yang ada sesuai dengan perjanjian yang disepakati.

¨ Bentuk kontrak BLT sedikit berbeda dengan BOT. disini setelah fasilitas selesai dibangun, pemilik fasilitas seolah-olah menyewa untuk satu kurun waktu kepada investor untuk dipakai sebagai angsuran dari investasi yang sudah ditanam. Atau fasilitas bisa juga disewakan kepada pihak lain dengan perjanjian sewa yang hasilnya diserahkan kepada investor.

Unsur-unsur dalam Kontrak proyek konstruksi

¨ Yang terlibat langsung:

– Pemberi tugas (pengguna Jasa)

– Kontraktor (Penyedia Jasa Pelaksanaan)

– Konsultan (Penyedia Jasa Perencanaan dan Penyedia Jasa Pengawasan/MK)

¨ Yang terlibat dalam proses pembangunan

– Pemberi tugas

– Kontraktor

– Konsultan

– Pemerintah

– bank

Created by:ILMUSIPIL>COM

Rumah Minimalis





Selasa, 04 Januari 2011

sifat fisik dan mekanik kayu bahan bangunan (ilmusipil.com)

sifat-sifat Fisik Kayu, yaitu :

Berat Jenis kayu

Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda, antara 0,2 (kayu balsa) sampai 1,28 (kayu nani). Berat jenis merupkan petunjuk untuk menentukan sifat-sifat kayu. Makin berat kayu itu, kekuatan kayu makin besar. Makin ringan kayu itu, kekuatannya juga makin kecil. Berat jenis tergantung oleh tebal dinding sel, kecilnya rongga sel yang membentuk pori-pori.

Keawetan alami kayu.

Keawetan alami kayu berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Keawetan kayu disebabkan oleh adanya suatu zat di dalam kayu (zat ekstraktif) yang merupakan sebagian unsur racun bagi perusak kayu.

Warna kayu.

Warna suatu jenis kayu dipengaruhi oleh : tempat di dalam batang, umur pohon dan kelembaban udara.

Higroskopik

Higroskopik yaitu sifat dapat menyerap atau melepaskan air atau kelembaban. Makin lembab udara sekitar, kayu juga semakin lembab. Masuknya air ke dalam kayu menyebabkan berat kayu bertambah. Sifat ini berhubungan dengan sifat mengembang dan menyusut kayu.

Tekstur kayu

Tekstur kayu yaitu ukuran relatif dari sel-sel kayu. Menurut teksturnya, kayu dibedakan menjadi :

*Kayu bertekstur halus, contohnya kayu giam, lara, kulim, dll.

*Kayu bertekstur sedang, contohnya kayu jati, sonokeling, dll.

*Kayu bertekstur kasar, contohnya kayu kempas, meranti, dll.

Berat kayu.

Berat suatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu yang tersusun, rongga-rongga sel atau jumlah pori-pori, kadar air dan zat ekstraktif. Berat suatu kayu tergantung dari berat jenisnya.
Kelas berat Kayu Berat Jenis Contoh
sangat berat > 0,90 kayu giam, balau
Berat 0,75 – 0,90 Kulim
Agak berat 0,60 – 0,75 Bintangur
Ringan < 0,60 balsa, pinu

Kekerasan Kayu.

Kekerasan kayu berhubungan dengan berat dan berat jenis kayu. Contoh kayu yang sangat keras : balau, giam, kayu besi, dll. Kayu keras, yaitu kulim, pilang, dll. Kayu sedang, yaitu : mahoni, meranti, dll. Kayu lunak, yaitu : pinus, balsa, dll.

Kepadatan/kerapatan kayu,

kepadatan kayu yaitu perbandingan antara berat kering oven dengan isi (volume) dari sepotong kayu. Kepadatan kayu mempengaruhi kekuatan kayu. Kepadatan kayu tergantung dari banyaknya dinding sel pada tiap satuan isi. Makin banyak selnya, dinding selnya banyak sehingga kepadatannya tinggi maka kekuatannya juga tinggi. Contoh : kayu gubal susunan selnya masih renggang sehingga kekuatannya lebih rendah dibandingkan kayu teras.

Sifat mengembang dan menyusut

Kayu akan mengembang bila kadar airnya naik dan menyusut bila kadar airnya berkurang. Besarnya pengembangan dan penyusutan tidak sama pada semua arah. Rata-rata besarnya pengembangan dan penyusutan pada arah tangensial : 4-14%, arah radial : 2 – 8 %, arah axial : 0,1 – 0,2 %.

Sifat mekanik kayu meliputi :

1. Kuat tarik, yaitu kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu itu. Kuat tarik kayu sejajar serat lebih besar dibandingkan kuat tarik tegak lurus serat.
2. Kuat tekan, yaitu kemampuan kayu dalam menahan beban tekan. Kuat tekan sejajar serat biasanya lebih besar dari kuat tekan tegak lurus serat.
3. Kuat geser, yaitu kemampuan kayu dalam menahan beban geser. Kuat geser sejajar serat biasanya lebih kecil dari kuat geser tegak lurus serat.
4. Kuat Lentur, yaitu kemampuan kayu dalam menahan beban lentur.
5. Kuat belah, yaitu kemampuan kayu dalam menahan beban yang berusaha membelah kayu.

Created by: ILMUSIPIL.COM

Cara Menghitung Baja (ilmusipil.com)

Tipe – tipe Baja Struktural Beserta Propertiesnya

Jenis Baja Tegangan putus minimum, fu (Mpa) Tegangan leleh minimum, Fy (Mpa) Peregangan Minimum (%)
BJ 34 340 210 22
BJ 37 370 240 20
BJ41 410 250 18
BJ 50 500 290 16
BJ 55 550 410 13

Perencanaan Struktur Baja yang memikul gaya tarik aksial

Simbol yang digunakan :

Nu = Gaya aksial ultimate (maksimum)

Nn = Gaya aksial nominal (gaya aksial ultimate yang telah dikalikan faktor koreksi)

Untuk memikul gaya aksial, ada 2 kondisi kritis yang menjadi acuan perhitungan, yaitu :

Kondisi Failure akibat kondisi leleh

Untuk kondisi ini, maka faktor koreksi yang digunakan adalah ɸ = 0.9 dan Nu =Ag.Fy, sehingga :

Nn = ɸ x Nu

Nn = 0.9 x Ag x Fy

Dimana : Ag = Luas kotor penampang Baja

Fy = Tegangan yield (leleh) baja.

Kondisi Failure akibat terjadinya Fraktur

Untuk kondisi ini, maka faktor koreksi yang digunakan adalah ɸ = 0.75 dan Nu =Ae.Fu sehingga :

Nn = ɸ x Nu

Nn = 0.75 x Ae x Fu

Dimana : Ae = Luas efektif penampang Baja

Fu = Tegangan ultimate baja.

Secara singkat, hitung saja nilai dari kedua rumus di atas dan diambil nilai yang terkecil. Permasalahan yang mungkin timbul adalah bagaimana menentukan luas kotor dan luas efektif dari suatu penampang. Luas kotor dan luas efektif mungkin timbul bila pada penampang terdapat sambungan yang mengurangi luasan penampang, misal sambungan baut.

Luas Bruto (Kotor) Penampang Baja.

Yang dimaksud dengan luas kotor penampang baja adalah luasan penampang baja total tanpa memperhitungkan adanya pengurangan luas penampang akibat lubang baut.

Luas Efektif Penampang Baja.

Yang dimaksud dengan luas efektif penampang baja adalah luasan penampang baja dikurangi dengan luasan penampang lubang untuk baut.

Melakukan perhitungan luas efektif Baja bergantung pada jenis – jenis sambungannya. Sambungan yang dapat digunakan antara lain sambungan baut dan sambungan las. Namun pada prinsipnya luas penampang efektif, Ae , besarnya adalah luas penampang total, A , dikalikan dengan faktor reduksi, U. Atau secara matematis ditulis sebagai berikut :

Ae = A x U

Untuk Sambungan Baut :

Pada prinsipnya jika terdapat beberapa lubang baut pada pelat, kita harus memperkirakan bentuk patahan yang mungkin terjadi. Contoh kasusnya seperti ini :

patahan 1-2-3

tutorial-struktur-baja

Dari gambar di atas, ada tiga buah lubang baut yaitu lubang 1 ,lubang 2 dan lubang 3. Model patahan yang mungkin muncul adalah 1 – 3, atau 1 – 2 – 3 (perhatikan jalur patahannya).

Rumus umum yang digunakan untuk kasus semacam ini adalah :

Ae = Ag – n x d x t – Σ (s2 x t/4u)

Untuk patahan 1 – 3, nilai s = 0 sehingga Ae = Ag – n x d x t.

Dimana : d adalah diameter lubang, t adalah tebal pelat dan n adalah banyaknya lubang baut.

Catatan : dalam SNI ditentukan bahwa luas total seluruh lubang baut tidak boleh melebihi 15% dari luas penampang utuh.

Untuk memahami darimana rumus ini diperoleh, kita harus mengamati penampang dari pelat tersebut. Bila digambarkan penampang pelat tersebut, kira-kira seperti ini :

perhitungan-baja

Dari gambar penampang pelat di atas terlihat bahwa luas efektif pelat adalah luas kotor penampang baja dikurangi dengan luas lubang (daerah putus – putus, diasumsikan persegi panjang) yaitu sebesar n x d x t.

Untuk Sambungan Las (Welding)

Jika l > 2w, maka U = 1

Jika 2w > l > 1.5w, maka U = 0.87

Jika 1.5w > l > w, maka U = 0.75

Dimana l adalah panjang las dan w adalah lebar pelat.

Sekian tutorial singkat mengenai perhitungan kapasitas aksial (tarik) penampang Baja. Komentar dan kritik akan saya terima dengan terbuka

Untuk perhitungan baja, masih ada tentang kapasitas penampang untuk menerima gaya momen lentur, gaya tekan, dan kombinasi gaya. Untuk lebih jelasnya akan saya coba susun dalam tutorial berikutnya.

Posted by:ilmusipil.com

Cara Menghitung Baja (ilmusipil.com)

Tipe – tipe Baja Struktural Beserta Propertiesnya

Jenis Baja Tegangan putus minimum, fu (Mpa) Tegangan leleh minimum, Fy (Mpa) Peregangan Minimum (%)
BJ 34 340 210 22
BJ 37 370 240 20
BJ41 410 250 18
BJ 50 500 290 16
BJ 55 550 410 13

Perencanaan Struktur Baja yang memikul gaya tarik aksial

Simbol yang digunakan :

Nu = Gaya aksial ultimate (maksimum)

Nn = Gaya aksial nominal (gaya aksial ultimate yang telah dikalikan faktor koreksi)

Untuk memikul gaya aksial, ada 2 kondisi kritis yang menjadi acuan perhitungan, yaitu :

Kondisi Failure akibat kondisi leleh

Untuk kondisi ini, maka faktor koreksi yang digunakan adalah ɸ = 0.9 dan Nu =Ag.Fy, sehingga :

Nn = ɸ x Nu

Nn = 0.9 x Ag x Fy

Dimana : Ag = Luas kotor penampang Baja

Fy = Tegangan yield (leleh) baja.

Kondisi Failure akibat terjadinya Fraktur

Untuk kondisi ini, maka faktor koreksi yang digunakan adalah ɸ = 0.75 dan Nu =Ae.Fu sehingga :

Nn = ɸ x Nu

Nn = 0.75 x Ae x Fu

Dimana : Ae = Luas efektif penampang Baja

Fu = Tegangan ultimate baja.

Secara singkat, hitung saja nilai dari kedua rumus di atas dan diambil nilai yang terkecil. Permasalahan yang mungkin timbul adalah bagaimana menentukan luas kotor dan luas efektif dari suatu penampang. Luas kotor dan luas efektif mungkin timbul bila pada penampang terdapat sambungan yang mengurangi luasan penampang, misal sambungan baut.

Luas Bruto (Kotor) Penampang Baja.

Yang dimaksud dengan luas kotor penampang baja adalah luasan penampang baja total tanpa memperhitungkan adanya pengurangan luas penampang akibat lubang baut.

Luas Efektif Penampang Baja.

Yang dimaksud dengan luas efektif penampang baja adalah luasan penampang baja dikurangi dengan luasan penampang lubang untuk baut.

Melakukan perhitungan luas efektif Baja bergantung pada jenis – jenis sambungannya. Sambungan yang dapat digunakan antara lain sambungan baut dan sambungan las. Namun pada prinsipnya luas penampang efektif, Ae , besarnya adalah luas penampang total, A , dikalikan dengan faktor reduksi, U. Atau secara matematis ditulis sebagai berikut :

Ae = A x U

Untuk Sambungan Baut :

Pada prinsipnya jika terdapat beberapa lubang baut pada pelat, kita harus memperkirakan bentuk patahan yang mungkin terjadi. Contoh kasusnya seperti ini :

patahan 1-2-3

tutorial-struktur-baja

Dari gambar di atas, ada tiga buah lubang baut yaitu lubang 1 ,lubang 2 dan lubang 3. Model patahan yang mungkin muncul adalah 1 – 3, atau 1 – 2 – 3 (perhatikan jalur patahannya).

Rumus umum yang digunakan untuk kasus semacam ini adalah :

Ae = Ag – n x d x t – Σ (s2 x t/4u)

Untuk patahan 1 – 3, nilai s = 0 sehingga Ae = Ag – n x d x t.

Dimana : d adalah diameter lubang, t adalah tebal pelat dan n adalah banyaknya lubang baut.

Catatan : dalam SNI ditentukan bahwa luas total seluruh lubang baut tidak boleh melebihi 15% dari luas penampang utuh.

Untuk memahami darimana rumus ini diperoleh, kita harus mengamati penampang dari pelat tersebut. Bila digambarkan penampang pelat tersebut, kira-kira seperti ini :

perhitungan-baja

Dari gambar penampang pelat di atas terlihat bahwa luas efektif pelat adalah luas kotor penampang baja dikurangi dengan luas lubang (daerah putus – putus, diasumsikan persegi panjang) yaitu sebesar n x d x t.

Untuk Sambungan Las (Welding)

Jika l > 2w, maka U = 1

Jika 2w > l > 1.5w, maka U = 0.87

Jika 1.5w > l > w, maka U = 0.75

Dimana l adalah panjang las dan w adalah lebar pelat.

Sekian tutorial singkat mengenai perhitungan kapasitas aksial (tarik) penampang Baja. Komentar dan kritik akan saya terima dengan terbuka

Untuk perhitungan baja, masih ada tentang kapasitas penampang untuk menerima gaya momen lentur, gaya tekan, dan kombinasi gaya. Untuk lebih jelasnya akan saya coba susun dalam tutorial berikutnya.

Posted by:ilmusipil.com